Orang Lise
“Hati-hati dengan orang Lise, mereka bisa mengelabui kita karena sangat pandai bersilat lidah”. Ungkapan tersebut seringkali terlontar dalam suatu percakapan. Sehingga sebagian orang merasa stereotipe seperti ini tentu sangat mengganggu. Mengapa harus hati-hati menghadapi orang Lise? Padahal, katanya, yang dilakukan orang Lise adalah semata-mata karena pemahaman mereka yang sangat bagus terhadap logika berbahasa.
Orang Lise menyebut keahlian bersilat lidah tersebut sebagai ada tongeng (kata yang sebenarnya). Dalam teori linguistik, ada tongeng adalah bentuk tutur yang ketepatan tafsir bagian tertentu, maupun keseluruhan strukturnya memerlukan keselarasan rasa dan cara berpikir cepat tetapi tepat, ditambah pengetahuan dan pemahaman konteks yang luas dan mendalam serta terkesan jenaka.
Tapi kebanyakan orang Bugis menyebut keahlian orang-orang Lise itu dengan lecco-lecco ada atau permainan kata. Lise adalah sebuah desa yang berlokasi di Kecamatan Panca Lautang Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), kurang lebih 175 kilometer di sebelah utara kota Makassar. Desa Lise sangat gampang dijangkau karena berada di sekitar jalan poros Sidrap-Soppeng.
Luas desa ini sekitar 1.500 meter persegi, yang terdiri dari sekitar 800-900 kepala keluarga. Banyak desa yang bersebelahan dengan Desa Lise, di sebelah selatan ada Kelurahan Bilokka yang yang merupakan ibukota kecamatan. Di sebelah barat ada Kelurahan Massepe dan Amparita. Di sebelah timur ada Kelurahan Wanio dan WetteE. Dan di sebelah utara ada hamparan danau Sidenreng. Tapi orang-orang tua di Lise menyatakan batas-batas desa tersebut dengan; “mangkangului ri buluE, massulappEi ri taneteE, mattoddangi ri tapparengE”, maksudnya “Di bagian kepala terdapat deretan gunung, di bagian tengah terdapat tanah datar yang rata permukaannya, dan di bagian bawah terdapat danau”. Meski dekat dengan danau Sidenreng, masyarakat Desa Lise tidak memilih menjadi nelayan sebagai sumber mata pencahariannya.
Justru yang menjadi sumber mata pencaharian adalah bercocok tanam atau bertani. Umumnya yang mereka tanam adalah padi. Selain itu mereka juga beternak ayam yang menghasilan telur dan ayam pedaging.
Mengapa orang-orang Lise sampai dikenal di mana-mana sebagai ahli bahasa? Saya sendiri tidah tahu jawaban pastinnya kecuali dari cerita turun temurun. Suatu sore ketika saya masih mahasiswa baru di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin pada tahun 2000, dalam mata kuliah kewiraan, sang dosen membahas soal orang-orang yang jago dalam hal berdebat. Dosen itu kemudian berseru, “Apa ada orang Lise di antara kalian?”. Sontak teman-teman menunjuk ke arah saya, “Ini dia orangnya Pak!”.
Saat itu memang saya satu-satunya mahasiswa baru yang berasal dari Lise, bahkan satu-satunya orang Lise di Fakultas tersebut. Saya pun kemudian diminta oleh sang dosen untuk menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan desa asal saya, terutama yang berkaitan dengan masalah jago berdebat itu. Secara detil saya tidak tahu asal muasalnya kenapa orang-orang Lise sangat pandai bersilat lidah. Tapi menurut kakek-nenek saya, kemampuan tersebut memang sudah ada sejak mereka masih kecil. Kemampuan tersebut juga yang mengakibatkan desa tersebut diberi nama ‘Lise’ karena menurut orang-orang dulu, bahasa yang mereka keluarkan selalu ‘berisi’ (lise dalam bahasa Indonesia berarti isi) dan mengandung makna yang sebenarnya.
Menurut cerita kakek, pernah suatu ketika ada seorang warga Lise sedang berusaha mengeluarkan air di kalobeng-nya (kolam ikan yang ada di sawah) dengan menggunakan pallimpa (alat semacam ember). Tiba-tiba ada orang lain yang berasal dari kampung sebelah melintas dan bertanya, “Hei pallimpa, kega laiyola rekko tomelo lao di Lise?” (Hai pallimpa, lewat mana gerangan jika ingin pergi ke Lise?).
Orang Lise itu diam dan terus melanjutkan aktivitasnya. Karena orang Lise tersebut tidak menanggapi pertanyaan tersebut, maka dia kembali mengulangi bertanya hingga beberapa kali, namun orang Lise itu tetap tidak menjawab karena merasa bukan dia yang dipanggil. Si penanya akhirnya marah dan memaki-maki orang Lise tersebut. Bukannya balik marah ke si penanya, orang Lise ini dengan sangat marah membanting pallimpa tersebut sambil memaki, “Dasar pallimpa, kenapa diam terus, jawab dong pertanyaan orang itu, gara-gara kau diam saya yang dimarahi”. Nah, mari kita ikuti alur berpikir orang Lise dalam kasus ini. Bila diperhatikan kalimat si penanya, yang dipanggil oleh si penanya adalah pallimpa atau ember, bukan orang yang menggunakan pallimpa.
Dalam beberapa situasi lain pun kondisi ini sering terjadi. Coba perhatikan jika ada yang panggil penjual es atau penjual bakso, yang dipanggil bukan penjualnya tapi jualannya. Misalnya, “Es…!”, atau “Bakso…!”. Dalam bahasa Lise, panggilan tersebut adalah salah besar. Seharusnya yang dipanggil adalah penjualnya misalnya; “Hei Baco!”, atau “Hei silessureng” (Hei saudara), atau “Hei soba” (Hei teman), atau “Hei pabbalu es/bakso” (Hei penjual es/bakso).
Contoh pada kasus lain misalnya; ada seorang pendatang di Lise untuk mengunjungi keluarganya. Tapi sayang sekali orang tersebut tidak mengetahui di mana tepatnya rumah keluarganya. Di jalan, dia bertemu dengan salah seorang penduduk. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut, dia kemudian bertanya, “Pak! Taitaga bolana ibu Becce?” (Bapak lihat rumahnya Ibu Becce?). Merasa tidak melihat rumahnya Ibu Becce bapak tersebut kemudian menjawab, “De witai Ndi!” (Saya tidak lihat Dek!). Jika diperhatikan dengan baik, ada kesalahan dalam pertanyaan di atas. Dalam pertanyaan tersebut dikatakan, “Bapak lihat rumahnya Ibu Becce?”.
Sebenarnya bapak yang ditemui oleh orang tersebut mengetahui dengan pasti di mana rumah Ibu Becce, bahkan mereka berada di depan rumah Ibu Becce. Tapi pada saat itu bapak tersebut membelakangi rumah Ibu Becce, karena pertanyaan yang dilontarkan adalah “Bapak lihat rumahnya Ibu Becce?”, maka bapak itu menjawab “Saya tidak lihat Dek!”, karena memang pada saat itu bapak tersebut tidak melihat rumah Ibu Becce secara langsung.
Masih banyak contoh lain tentang logika berbahasa yang sangat dijunjung tinggi orang Lise, dan tentu ini bukanlah sesuatu yang salah. Juga tidak bermaksud untuk mempermainkan lawan bicaranya, tapi semata-mata mereka ingin melakukan komunikasi verbal dengan baik dan benar.
Dalam analisis akademis, budaya orang Lise tersebut dijelaskan oleh Esti Pertiwiningsih, seorang dosen Fakultas Sastra Jurusan Sastra DaerahUniversitas Hasanuddin yang pernah melakukan penelitian tentang; “Fungsi Ada Tongeng Analisis Wacana Lisan To Lise” pada tahun 2000 untuk penyusunan thesisnya. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa ada tongeng atau lecco-lecco ada mempunyai beberapa fungsi yaitu; fungsi (1) melucu, (2) hiburan, (3) mendidik, (4) mempermainkan orang, (5) memperdayakan orang, (6) mengejek, (7) mengalahkan teman bicara, (8) membela diri, (9) menunjukkan kepandaian bicara, (10) menghilangkan keformalan, (11) membujuk, (12) memperlancar hubungan sosial, (13) komunikasi, dan (14) introspeksi.
Analisis tersebut di atas ada benarnya juga, tapi jika pembaca sekalian menanyakan fungsi ada tongeng seperti tersebut di atas kepada orang Lise, mungkin pada umumnya mereka tidak tahu, karena memang bahasa Lise tidak ada teorinya.. Tapi yang jelas, ada tongeng benar-benar ada dan dipakai sebagai bahasa sehari-hari di desa tersebut. Tidak jarang orang-orang Lise sendiri pun kadang-kadang bingung karena penggunaan bahasa tersebut. Sebagai orang Lise, saya sendiri pun kerap bingung dengan logika berbahasa orang-orang sekampung saya.Selain itu Desa Lise Juga Memiliki Nama Persatuan Untuk Anak Anak Muda Yaitu "LADOZA"
"Saya Bangga Jadi Orang Lise


Komentar
Posting Komentar